Badai PHK di Perusahaan Startup Diprediksi Masih Terjadi hingga Dua Tahun ke Depan

JAKARTA – Akhir-akhir ini perusahaan rintisan atau biasa disebut startup, menjadi perbincangan masyarakat lantaran mengalami badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap para karyawannya.

Sejumlah startup yang dimaksud diantaranya seperti Shopee, TaniHub, hingga LinkAja.

Pengamat IT sekaligus Direktur ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan, badai PHK terjadi karena startup sudah memasuki fase berat bagi yang belum jadi unicorn atau decacorn.

Sebab, investasi baru menjadi tidak mudah. Semua investor yang ditanamkan sebelumnya di stratup ingin segera kembali.

“Tak heran kalau banyak startup didorong Initial Public Offering (IPO) karena investor sudah lama menahan uang di startup dan kini saatnya mengambil hasil,” ucap Heru Sutadi saat dihubungi Tribunnews, (30/10/2022).

“Dampaknya, ya yang belum jadi unicorn maka akan ada efisiensi. Karyawan dikurangi, fasilitas juga tidak semewah sebelumnya,” sambungnya.

Heru pun menyimpulkan, industri startup tengah menghadapi winter, istilah yang menggambarkan situasi sulit. Winter tech atau masa stagnasi terjadi akibat kurangnya inovasi.

Ia memprediksi, fase ini akan berlangsung hingga 2 tahun ke depan.

“Fase winter is coming ini akan berlangsung hingga 1-2 tahun ke depan. Kalau maksimal dalam 2 tahun ke depan tidak IPO atau jadi unicorn, maka pasti akan gugur,” pungkasnya.

Sama halnya dengan Heru, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memperkirakan fenomena perusahaan rintisan (startup) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akan berlangsung hingga 2024.

Menurut dia, kondisi itu bukan tanpa alasan, karena dari sisi pendanaan startup tengah menghadapi tekanan yang sangat besar.

“Winter atau musim dingin pengurangan karyawan, bahkan startup tutup permanen baik e-commerce, logistik, maupun di transportasi online. Ini perkiraannya akan berlangsung 2 tahun ke depan. Ini merupakan salah satu seleksi alam,” katanya, Kamis (27/10).

Bhima menuturkan, saat ini investor utama yang mendanai para perusahaan rintisan yang berasal dari beberapa negara sedang berjuang di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ekonom milenial itu menambahkan bahwa startup ada baiknya mencari sumber pendanaan alternatif yang berasal dari dalam negeri. Startup juga harus mampu mengubah model bisnis khususnya yang berdampak pada arus pendanaan.

“Melakukan Pivot Strategy atau mengubah model bisnis yang berdampak pada profitabilitas, sehingga arus kas startup menjadi lebih positif,” pungkasnya. 

Sumber : Tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *