Metaverse dan Blockchain Diyakini Akan Lahirkan Ekonomi Baru

JAKARTA – Perkembangan blockchain yang mulai diikuti dengan jargon tren “metaverse” akhir-akhir ini menarik semakin banyak perhatian publik di dunia terutama aplikasi berbasis game yang menyematkan mata uang kripto dengan teknologi blockchain sebagai basis platform teknologi pendukungnya.

Sayangnya, pemahaman mengenai metaverse masih sangat dini dan sering kali orang menyebut segala jenis game berbasis blockchain sebagai metaverse padahal metaverse yang diwacanakan oleh para industrialis dunia sifatnya jauh lebih rumit dan kompleks dalam ranah penerapan dan pengaktifasian ekosistemnya, bukan sekedar game online
berbasis blockchain.

Reiner Rahardja pengusaha yang juga berkecimpung di dunia blockchain sejak 6 tahun silam mengatakan, Metaverse yang sejati hanya akan terjadi jika menerapkan ekosistem dan ekonomi independen di dalamnya.

Ekosistem tersebut menjadikan metaverse tersebut sebagai pengejawantahan dari gabungan kata “meta” dan “universe” atau meta-universe yang kemudian disingkat menjadi sebuah kata baru yakni “metaverse”.

Dia mengatakan, kata universe sendiri bermaknajagat semesta yang mewakili ruang dan waktu fisik dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu termasuk didalamnya adalah kegiatan harian manusia yang seluruhnyaberputar disekitar unsur finansial dan uang.

Sedangkan kata Meta secara etimologi artinya adalah “melampaui” ataubersifat transenden, pemahaman kata inilah yang membuat rancu pengertianmetaverse secara global karena publik belum bisa membedakan mana Meta yang artinya brand media sosial milik Mark Zuckerberg, atau meta dalam arti katasebenarnya.

“Banyak orang berpikir metaverse adalah produk atau teknologi milik perusahaan yang dulunya bernama Facebook, padahal samasekali bukan,” ujar Reiner dalam pernyataan tertulisnya yang dikutip Sabtu 5 November 2022.

Dia juga mendeskripsikan metaverse sederhananya adalah sebuah dunia baru yang melampaui asas ruang dan waktu fisik dan menjadi opsi hidup kedua bagi setiap insan untuk menjalani kehidupannya dengan serius.

Bukan dalamkonteks berpindah hidup dari universe saat ini lalu secara harafiah masuk dalammetaverse di dunia maya dan tidak keluar lagi, tapi lebih kepada eksistensi dua jenis dunia berbeda yang saling berjalan bersamaan atau sifatnya “co-exist.”
Kenyataan ini juga terlihat dalam ucapan Mark Zuckerberg 2021 silam yang sedang mentransformasi perusahaanya dari perusahaan sosial mediamenjadi perusahaan metaverse.

“Dari situ kita mendapat hidden message bahwadunia maya saat ini bukanlah metaverse, sedangkan populasi terbesar penduduk dunia maya sekarang adalah sekedar penduduk sosial media saja,” ungkapnya.

Yang menarik, “Dari aspek blockchain saat ini adalah ketika metaverse itu tidak lagi menggunakan mata uang dunia dan segala bisnis serta aktivitas perekonomian di dalamnya sama sekali terpisah dari roda perekonomian universe normal,” beber Reiner.

Karena, sifat blockchain adalah desentralisasi alias tidak terpusat atau dikontrol segelintir super power jadi yang ada adalah pengaturan dari rakyat untuk rakyat melalui system voting blockchain.

Dia menjelaskan, sifat iniyang apabila diterapkan dengan baik nantinya akan membuat perekonomian metaverse terpisah dari universe yang ada, terbukti dari perkembangan mata uang kripto akhir-akhir ini yang beberapa kali mengalami fenomena“decoupling” dari finansial market dunia.

Dia menambahkan, keputusan yang diambil Bank Sentral Amerika Serikat The Fed pada 2 November 2022 kemarin volatilitas kripto tidak seanjlok bursa saham dan itu menunjukan anomali.

“Bayangkan jika kripto sudah fully alive dalam metaverse, akan menjadi kuda hitam dalam perubahan masal pola hidup manusia,” ujarnya.

Karenanya, kata Reiner, tinggal menunggu waktu saja sampai metaverse yang berjalan sesuai harapan dapat muncul dan “co-exist” dengan universe saat ini dan memberikan pilihan hidup lebih luas untuk melanjutkan sepak terjang di dunia nyata atau memulai kehidupan baru dengan pergaulan dan peluang-peluang baru di dalam metaverse.

“Saya rasa sebelum tahun 2027 pun manusia sudah banyak yang migrasi ke metaverse karena sudah ada metaverse yang dapat memfasilitasi hidup baru tersebut secara holistik,” ujarnya.

Sumber : Tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *